Jumat, 24 April 2009

RA. KARTINI INGIN SEPERTI KAUM MUDA EROPA


Upaya yang diperjuangkan Kartini tersebut sedikit banyak mempengaruhi kaum perempuan di tanah air. Dimana saat ini banyak kaum wanita yang telah mendapat menikmati dari perjuangan Kartini. Dari pendidikan, saat ini tidak sedikit kaum perempuan yang mencicipi jenjang pendidikan SLTA, bahkan hingga ke perguruan tinggi dengan meraih gelar sarjana, master, doktor bahkan profesor. Di bidang politik, juga tidak sedikit kaum perempuan yang bisa menjadi pengurus inti partai bahkan duduk di legislatif, meskipun perkembangannya cukup bertahap. Bahkan undang-undang politik pun sekarang juga lebih mengedepankan kaum perempuan untuk bisa langsung menjadi aktor politik. Tentunya hasil ini tak lepas dari semangat Kartini yang dituangkan kepada perempuan Indonesia untuk bisa sejajar dan menjadi mitra bagi kaum laki-laki. Membangun semangat jauh lebih sulit karena pada prinsipnya juga harus bisa mengubah cara berpikir seseorang. ''Hidup itu akan indah dan berbahagia apabila dalam kegelapan kita melihat cahaya terang'' sepotong kalimat yang diucapkan R.A Kartini semasa hidupnya inilah yang mampu memberikan arti dan spirit tersendiri dalam perjuangan kaum perempuan dalam meraih persamaan dan kesetaraan gender atau disebut juga emansipasi.


Melalui hobinya menulis dan membaca serta mencari informasi atau tukar pikiran dengan rekan-rekannya di Belanda, Kartini memberikan spirit bagi tokoh-tokoh wanita di tanah air. Pada surat-surat Kartini tertulis pemikiran-pemikirannya tentang kondisi sosial saat itu di masa hidupnya, terutama tentang kondisi perempuan pribumi. Sebagian besar surat-suratnya berisi keluhan dan gugatan khususnya menyangkut budaya terutama di Jawa yang dipandang sebagai penghambat kemajuan perempuan. Kartini ingin wanita pribumi juga memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar.


Surat-surat Kartini lainya juga berisi harapannya untuk memperoleh pertolongan dari luar. Pada perkenalan dengan Estelle "Stella" Zeehandelaar, Kartini mengungkap keinginan untuk menjadi seperti kaum muda Eropa. Akibat kungkungan adat, perempuan tidak bisa bebas duduk di bangku sekolah, harus dipingit, dinikahkan dengan laki-laki yang tak dikenal, dan harus bersedia dimadu.


Lebih kritis lagi Kartini juga menyayangkan sikap kaum lelaki di tanah airnya yang kadang menjadikan agama sebagai alasan dan pembenaran bagi kaum laki-laki untuk berpoligami. Dan itu semakin memperlengkap penderitaan kaum perempuan yang dunianya hanya sebatas tembok rumah dan tersedia untuk dimadu. Sehingga perempuan benar-benar tidak punya pilihan dalam hidupnya.


Di sinilah bangkit sosok R.A. Kartini yang ingin membebaskan kaum wanita atas keterbelakangan dengan kaum pria serta ingin memajukan pendidikan kaum wanita yang tadinya sangat memprihatinkan. Kartini telah menemukan pencerahan dalam tahapan ini ada tiga sikap yang dipeluk Kartini. Mendukung Poligami, Domestifikasi Perempuan dan Anti Barat.






VIRUS MALAS


Sekilas pandang terlihat keluarga Pak Arman seorang pekerja keras, bisa dikatakan mewah dan bahagia, mobilnya ada, rumah besar dan bertingkat, memiliki dua putra yang gagah. Tapi mengapa sesekali terlihat kalau Pak Arman tampak murung. Tidak banyak orang yang tahu mengapa dia begitu. Pernah suatu ketika akhirnya dia membagi ceritanya. “Anakku yang dua itu luar biasa santainya, sekolah malas, belajar malas, disuruh malas, yang rajin hanya tidurnya, keluyuran, dan hura-hura saja. Saya dan ibu benar-benar pusing. Tidak tahu lagi harus bagaimana mengubah perilaku mereka. Padahal apapun yang mereka perlukan selalu kami sediakan.” Pak Arman sedih lantaran dia bekerja keras bertahun-tahun, membanting tulang untuk sebuah “puncak” yang sekarang telah didapatkannya. Tapi mengapa dia tampak murung ? Hal ini juga banyak dialami kawan-kawan seperjuangannya yang lain, yaitu kekecewaan kepada anak-anak muda mereka.


Tak heran banyak diantara kita bertanya: “Penyakit apakah yang menjangkiti para anak muda itu?” Wixen seorang pakar sosiologi, menyebutnya Disgradia. Ya, itu namanya Disgradia (bukan disgrafia). Semacam ‘virus mental’ yang membuat orang yang diserangnya lupa atau lebih tepatnya tak mau tahu tentang sejarah. Cirri-cirinya sederhana, orang yang diserangnya bersifat ahistoris, tak mau ambil pusing dengan perjuangan generasi sebelumnya.
Contoh, kalau ayahnya pejuang kemerdekaan, maka ia tidak pernah mau belajar atau menghayati betapa besar pengorbanan orangtuanya dalam memerdekakan bangsa dulunya. Contoh lain, jika ayahnya seorang yang kaya, ia tidak pernah mau ambil pusing untuk mengetahui atau menghayati perjuagan ayahnya yang membanting tulang untuk memperoleh kekayaan itu. Atau contoh lainnya tentang pejuang agama, pejuang sosial dll.

Tak mengherankan jika dua ahli sosiologi – paul B. Horton dan Chester L. Hunt - pernah memberi wejangan: “Jangan kira semua anak orang kaya bisa berhasil” Artinya limpahan fasilitas bukanlah jaminan keberhasilan. Tidak sedikit kan orang yang awalnya “hidup susah” menjadi orang sukses di masa mendatangnya? Peyakit mental ahistoris semacam inilah yang mulai menyerang generasi muda sekarang,mkalau sudah diserang, kepada siapa lagi tumpuan harapan masa depan negara dan agama kita letakkan ?
Rasanya sulit sekali membayangkan kejayaan masa depan bangsa jika anak mudanya lebih cenderung hura-hura, pesta pora sampai pagi, keluyuran tak menentu, santai ria dengan narkoba, dan penyakit modern lainnya. Dan satu lagi mereka tidak takut mati hanya bekal amal kebaikan yang sedikit. Mengenal gejala virus ini sangatlah penting untuk mengambil langkah-langkah antisipatif sejak dini.
Disgradia namanya memang estetis tapi dampaknya sungguh tragis